Minggu, Februari 10, 2013

InsyaAllah...

InsyaAllah...

Berat juga ya tanggung jawab atas ucapan kata itu...
Setelah browsing kesana kemari, terkumpullah beberapa pengertian/tafsiran dari kata "InsyaAllah.. " ada beberapa kesamaan dengan Wallahu Alam Bi Shawab...
Semoga, semoga dan semoga.... Apapun dan apapun dan apapun... Kuserahkan hidupku hanya padaMu Yaa Allah...
Semoga Engkau memberikan jalan yang terbaik bagi semua hambaMu.... Amin

Secara bahasa kata itu berarti jika Tuhan menghendaki, disini makna kata tersebut adalah sebuah bentuk kepasrahan seorang hamba terhadap Tuhan. Seperti yang kita tahu bahwa manusia hanya bisa merencanakan sesuatu dan Tuhan lah yang berkehendak atas perencaan sesuatu tersebut,,akankah terwujud ataupun tidak.

Kata InsyaAllah mempunyai makna ketidaktahuan hamba akan waktu yang akan datang, baik itu satu detik mendatang ataupun menit, jam, hari, dan tahun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Maka kita sering mengucapkan kata tersebut. Tapi sering kali kata itu di gunakan untuk menutupi atau sebagai legalitas dari sebuah keraguan. Ketika kita melakukan sebuah janji dengan seseorang kita sering mengucapkan kata itu. Tapi kadang-kadang kita menggunakan kata itu hanya takut bila nanti kita tak menepati janji tersebut atau sebagai legalitas untuk meredam emosi atau kekesalan terhadap pihak yang telah kita berikan janji.

Kesalahanya adalah kita menempatkan kata itu atas dasar sungkan (tak berhasrat atau tak kita niati sepenuhnya) atas suatu yang akan kita lakukan. Padahal kata tersebut harusnya kita dasari dengan kejujuran dan niat untuk melakukan apa yang akan kita lakukan bukanya hanya untuk menutupi keraguan kita. Dan bila janji itu tidak terpenuhi hendaknya itu adalah atas kehendak Tuhan bukan atas kehendak kita karena pada waktu berjanji kita sudah sungkan atas hal yang kita janjikan.


Sungguh agung makna kata "insya Allah" itu. Di dalamnya dikandung makna paling tidak empat hal. Pertama, manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid). Kedua, menghindari kesombongan karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial.) Ketiga, menunjukkan ketawaduan (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT. Keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Senin, Januari 28, 2013

LDR

Long Distance Relationship


Baca artikel, TL twiter, kok jadi geli yach...
LDR: Lelah Disiksa Rindu, Lalu Datanglah Ragu, Lamalama Diapun Raib.

Nyicil judul dulu deh.... Lanjutannya ntar kalo dah mood. wkwkwkkk

Senin, Oktober 29, 2012

“wallahu a’lam bishawab"


“wallahu a’lam bishawab"  

Dan Allahlah yang Paling tahu




Marah jangan hanya ditahan,tapi ubahlah sebagai motivasi

Setiap orang pasti punya emosi marah,mungkin disebab kan oleh perilaku, sikap,perkataan,DLL.Sebagian orang mengatakan”Tahan emosi mu!”. Mungkin jika terlalu lama menahan emosi kemarahan malah bisa jadi tambah Stroke!

Dalam keberhasilan kita harus dapat mengendalikn emosiYang benar bila ada sesuatu hal yang membuat kita marah jangan dilampiaskan dan hanya ditahan,tapi ubahlah sebagai motifasi untuk menjadi lebih baik.contoh:kamu marah karena kata kata orang yang kurang mengenak kan di hati.jangan hanya ditahan tapi renungilah apa diri kita seperti apa yang dikatakan orang yang membuatmu marah?,kalau sudah begitu kit harus berusaha lebih baik dari pada apa yang dikatakan orang yg membuat mu marah.
                                       “wallahu a’lam bishawab”

Berfikirlah sebelum dan saat marah,apa akibatnya,tepat atau tidak kita marah”

Berfikirlah apa yang kau lakukan ketika marah,karna perbuatan yang dilakukan ketika marah akan berbuah penyesalan.dan penyesalan selalu datang belakangan.Sebaik nya tahan dan jadikan marahmu sebagai motivasi dan introspeksi diri untuk menjadi lebih baik.............................................
                                        “wallahu a’lam bishawab"



Buatlah Hari ini menjadi lebih baik daripada hari kemarin

Kita buat hari ini lebih berarti dan berharga dari pada hari kemarin. Lupakan kejadian yang menyedihkan di hari kemarin dan ingatlah kejadian menyenangkan yang telah lalu sebagai kenangan indah.atau paling tidak jadikan pengalaman menyedihkan yang telah lalu sebagai motifasi diri untuk melangkah lebih maju dihari sekarang dan esok.................................
                                     “wallahu a’lam bishawab”

Sepintar pintar manusia,hidupnya akan terasa hampa jika tidak memiliki tujuan hidup

Sepintar dan sebagus 2x manusia tidak akan ada apa apanya apabila tidak mempunyai tujuan hidup.setiap orang harus mempunyai tujuan hidup,tanpa tujuan hidup akan terasa hampa bagaikan segelas jus jeruk tanpa rasa sedikit pun.

Buatlah tujuan hidupmu yang bermanfaat dan Membantumu mencapai cita cita.APA TUJUAN HIDUP MU KAWAN? hanya kau yang mampu menentukan jawaban nya.....,,,,,,,,,,,,.......
                                       “wallahu a’lam bishawab”


Amalkan lah ilmu bermanfaat mu!

Apa gunanya ilmu setinggi l4n91t kalau tidak di manfaatkan dan tidak di amal kan.jangan menjadi orang yang egois/ananiyah,ajarkan lah ilmu mu pada orang disekitar mu.
Gunakanlah ilmumu sebaik mungkin........................................
                                       “wallahu a’lam bishawab”

Lebih baik mencari sesuatu atau pengalaman dari pada menunggu informasi

Menunggu informasi dari suatu sumber....itu seperti kegiatan orang malas yang terlihat pintar.kenapa?karena dia hanya mengetahui sesuatu bukan dari hasil usahanya sendiri,tetapi dari pengalaman orang lain.
Informasi memang sangat lah penting untuk  pengetahuan dan keberhasilan.tapi apa yang kita lakukan hanya menunggu?! Lebih baik kita membuktikan ya sendiri dengan kegiatan dan pengalaman.dan kita jadi lebih tahu dengan apa yang kita cari.
                                       “wallahu a’lam bishawab”

Senin, Juli 30, 2012

Empat Kompetensi Guru Professional


            Seiring dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”
Bahwa guru yang profesional itu memiliki  empat kompetensi atau standar kemampuan yang meliputi kompetensi Kepribadian, Pedagogik, Profesional, dan Sosial.  Kompetensi guru adalah kebulatan pengetahuan , keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.  Sebagai agen pembelajaran maka guru dituntut untuk kreatif dalam mnenyiapkan metode dan strategi yang cocok untuk kondisi anak didiknya, memilih dan menetukan sebuah metode pembelajaran yang sesuai dengan indikator pembahasan.  Dengan sertifikasi dan predikat guru profesional yang disandangnya, maka guru harus introspeksi diri apakah saya sudah mengajar sesuai dengan cara-cara seorang guru profesional.  Sebab disadarai atau tidak banyak diantara kita para pendidik belum bisa menjadi guru yang profesional sebagai mana yang diharapkan dengan adanya sertifikasi guru sampai saat ini.       
A. Kompetensi kepribadian
Adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.  Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :
1. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
2. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan  kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.
3. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
5. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
B.Kompetensi Pedagogik
Kemampuan pemahaman terhadappeserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.  Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :
1. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
2. Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan  untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
3. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan  evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
5. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan  berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.
C. Kompetensi Profesional
Adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulummata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.  Sub kompetensi dalam kompetensi Profesional adalah :
1. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi yang meliputi  memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi sjsr, memahami hubungan konsep antar nmata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menguasai struktur dan metode keilmuan yang meliputi menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk membperdalam pengetahuandan materi bidang studi.
D.Kompetensi Sosial
adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar
Kode etik Guru dan Dosen
                Kode etik adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan kehidupan sehari-hari.

Isi Pokok Kode Etik Guru dan Dosen :
1. Kewajiban beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjunjung tinggi hukum dan peraturan yang berlaku
3. Mematuhi norma dan etika susila
4.Menghormati kebebasan akademik
5. Melaksanakan tridarma perguruan tinggi
6. Menghormati kebebasan mimbar akademik
7. Mengukuti perkembangan ilmu
8. Mengembangkan sikap obyektif dan universal
9. Mengharagai hasil karya orang lain
10. Menciptakan kehidupan sekolah/kampus yang kondusif
11. Mengutamakan tugas dari kepentingan lain
12. Pelanggaran terhadap kode etik guru dan dosen dapat dikenai sanksi  akademik, administrasi dan moral.

Jumat, Juli 27, 2012

Bintek PBM TIK di SD 2012 Angk 1 di Awal Puasa

Marhaban Yaa Ramadhan...
Ramadhan datang, alam pun riang... (hehe nyontek Tompi)
Alhamdulillah bisa ketemu ramadhan lagi tahun ini..
Maaf ya anak2 n suamiku tercinta, harusnya mamah ga pergi-pergi saat puasa, apalagi mas n adek hari-hari pertama masuk SD n SMP.
Nih si adek berseragam SD, luutuunaa,,,,, :)

Hari kelima puasa ini, ada tugas tuk Bimbingan Teknis Proses Belajar Mengajar Berbasis TIK di SD tahun 2012 di Grand Hotel Cikarang, hmm.... jadi ingat ramadhan lalu juga ada tugas ke Hotel Salak, Bogor.
Aku menempati kamar 240 sama dik Ema dari SDNBI Semarang... tuh... sama2 chubby... sama2 doyan coklat, sama2 hobi makan, hmmm 1 lagi sama2 suka jalan2...
Kita sempat ke SGC... meski cuma jalan2... harga sih rata2 sama aja dengan Pasar Johar, Pasar Klewer, Ramayana, Citraland...
n... puanaseeeee pooool.... bener kata Miss Lila... :(

Berhubung materi membuat blog udah abis... sambung besok yaa...

Minggu, September 18, 2011

mencari ilmu

http://portofolioguru.unnes.ac.id/asg_2010//umum/unduh.php?file=VmtjeGQxSnRVak5RVkRBOQ==

Alhamdulillah.... Aku lulus...
Kuucapkan kala itu... 

Ternyata kelulusan maupun keberhasilan bukan suatu akhir pencapaian suatu hal, melainkan awal diberikannya amanah yang lebih berat (biasa kita sebut beban, cobaan atau ujian...)
Allah SWT









Predikat Guru Profesional bukan sekedar menerima tunjangan profesi. Namun haruslah diimbangi dengan tindakan yang sekiranya dapat memberi manfaat lebih untuk anak didik kita dalam mencari ilmu.
Akupun ingin mencari ilmu lagi, tentu dengan menggunakan tunjangan itu....

(Sesuatu yang mudah dikatakan... Insyaallah aku mudah mewujudkannya...)

Tempo hari dapat pencerahan dari seseorang.... (hmmm...)
Dalam segala hal kita hendaknya melihat dengan menggunakan Mata Hati....
Dimana empati, simpati terdapat di dalamnya...

Segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya dapat kita rasakan seperti Mata Air...
Kita turuti semua aturan yang ada, kita lakukan apa yang sudah menjadi kewajiban dengan ikhlas.
Maka semua itu akan memudahkan kita dalam mencari Mata Uang

(*gubrak... mengena sekali...)

Ya Allah.... semoga aku dapat mengemban amanahmu...

Teman... selain pencerahan di atas, untaian kata di bawah ini mungkin juga dapat memotivasi kita dalam menuntut ilmu dan membagikan ilmu...

“Barang siapa menempuh suatu jalan dengan tujuan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Selain itu, malaikat akan meletakkan sayapnya bagi orang yang mencari ilmu sebagai keridaan atas tindakannya. Sesungguhnya yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di laut, akan memohonkan ampunan bagi orang yang menuntut ilmu. Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas planet yang lain. Para ulama adalah pewaris manusia. Dan, para nabi tiada mewariskan dinar atau dirham, melainkan ilmu. Maka, barang siapa mengambilnya, berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Ahmad)

Subhanallah...

Sabtu, Juli 16, 2011

Nisfu Sya'ban

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي سَبْرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Al Hasan bin Ali Al Khallal menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Sabrah memberitakan kepada kami, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban maka lakukan shalat malam padanya dan berpuasalah pada siang harinya. Karena sesungguhnya Allah turun ke langit dunia di dalamnya sampai matahari terbenam. Saat itu Allah berfirman, “Apakah ada yang akan meminta ampun? Pasti aku ampuni. Apakah ada yang minta rezki? Pasti aku beri. Apakah ada yang mendapat musibah? Pasti aku selamatkan dia…..dan seterusnya sampai terbit fajar.” (Sunan Ibnu Majah, no. 1388).

Senin, Juli 11, 2011

Makna kebersamaan

Dalam banyak riwayat digambarkan bahwa Rasulullah selalu memelihara shalat secara berjamaah. Sepanjang melaksanakan shalat, mereka menjalin hubungan mesra, bukan saja dengan Allah (habl min Allah), melainkan juga dengan sesama manusia (habl min an-nas).
Keseluruhan gerakannya mengilustrasikan persamaan dan kesetaraan, sekaligus mengikat kuat kebersamaan dan kedekatan satu sama lain. Dalam suasana batin yang tulus, jasad yang bersih, tak ada kata yang terucap kecuali mengagungkan Allah. Setelah seorang imam menutup surah al-Fatihah, jamaah pun menjawab, “amin”.
Dalam shalat, mereka menyamakan persepsi, sikap, dan bahkan perilaku. Lihatlah, ketika waktu shalat tiba, mereka menghentikan sementara seluruh aktivitas yang tengah dilakukannya. Mereka bergegas mendatangi rumah-rumah Allah dan bertasbih menghormati tempat suci itu. Semua berbaris rapi, mengikuti isyarat yang sama untuk melakukan gerakan yang sama pula.
Keseluruhan perasaannya tercurah total kepada Sang Pencipta. Di pengujung shalat, semua serempak menebar keselamatan, “Assalamu’alaikum”, sebagai wujud penghambaan kepada-Nya dan penghormatan kepada sesamanya. Inilah wujud kebersamaan yang dibangun di atas nilai-nilai religiositas keislaman.
Pada kesempatan itulah Rasulullah memelihara kerukunan dengan para sahabat. Nasihat-nasihatnya disampaikan untuk mempertebal keyakinan dalam berkhidmat pada kepentingan ajaran. Mengalirlah kata-kata hikmah dari seorang Nabi pilihan Allah, “Bangun keakraban di antara sesama”. Kini, pemandangan sejarah itu semakin kabur. Suasana rukun pelan-pelan lenyap. Rasulullah pun melihat pemandangan akhir zaman itu dalam suasana perih. Seolah tak sanggup menyaksikan kenyataan porak-porandanya umat, terpecah-pecah kepentingan dan egoisme. Semangat primordial yang sering mengancam kebersamaan, dan begitu mudah merobohkan tiang-tiang persaudaraan.
Mungkin ada hikmah di balik rasa perih itu. Mengapa Allah tak mengamini kehendak Rasulullah untuk tetap menjaga kokohnya kebersamaan? Di antara rasa perih dan keharusan menyampaikan risalah inilah, Nabi SAW tak lelah memberi nasihat, “bangunlah keakraban”. Keakraban memang dapat menjembatani segala bentuk kebekuan, terutama kebekuan psikologis yang sering merusak kebersamaan.
Keakraban juga mendorong tumbuhnya solidaritas dan kerja sama untuk mewujudkan kesadaran kolektif mengikat umat. Lebih memprihatinkan lagi ketika suasana itu melilit hubungan antarumat beragama. Memang, istilah ‘umat beragama’ telah lama menjadi ungkapan yang sangat akrab. Namun, belum tentu setiap orang memberikan apresiasi yang sama. Umat beragama, di satu sisi, dapat dilihat sebagai wujud kebersamaan individu yang terikat pada nilai-nilai agama. Ia adalah potensi sosial yang dapat menjadi kekuatan raksasa dalam mewujudkan cita-cita kolektif menuju kesejahteraan bersama.
Tapi, di sisi lain, kerap kali umat beragama hanya dipandang sebagai kekuatan politik yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sesaat. Karena itu, sangat mungkin, jika agama cenderung berperan sebagai pemicu konflik ketimbang perekat kebersamaan. Wallahu A’lam.

Rabu, Juni 29, 2011

Keteladanan

Membaca koran Kompas Selasa, 3 Mei 2011 di kolom opini halaman 7 tentang pendidikan watak yang dituliskan oleh Bapak Mochtar Buchori, membuat saya terinspirasi untuk membuat sebuah tulisan yang berjudul Pentingnya Pendidikan Keteladanan. Sebuah artikel yang lebih mengarahkan peserta didik untuk mampu memancing ikan, dan menemukan kreativitas dan imajinasinya dari keteladanan orang dewasa.

Pentingya sebuah pendidikan bagi manusia sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun sayangnya, kelakuan tidak bermoral dan perbuatan negatif lainnya seperti korupsi di negeri ini justru dilakukan oleh mereka yang telah mendapatkan pendidikan. Bahkan mereka itu telah mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau universitas. Itulah yang membuat kita miris.
Mengapa banyak orang pinter di negeri ini menjadi keblinger? Apa yang menyebabkan mereka seperti itu? Pintar tetapi tersesat jalan. Pendidikan macam apa yang telah mereka lalui sehingga otak lebih dominan ketimbang watak. Pasti ada yang salah dalam implementasi pendidikan watak. Kesalahan itu mudah saja dilihat karena minimnya pendidikan keteladanan.
Pendidikan watak hanya menjadi sebuah teori yang miskin aplikatif. Kejujuran menjadi barang mahal di era persaingan global. Takwa menjadi kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dijalankan. Kita pun menjadi orang yang munafik. Seolah-olah kita telah menjadi seorang ustadz yang bijaksana di kampung maling.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Urgensi Pendidikan dimulai dari manusia dilahirkan dari rahim ibundanya. Seorang anak bagaikan kertas putih yang siap dituliskan isinya. Orang tuanyalah yang akan membentuk karakter atau watak anaknya. Oleh karenanya pendidikan keluarga adalah pendidikan yang sangat penting di dalam frase pertumbuhan anak. Bila pendidikan dalam keluarganya baik, maka ketika sang anak berhadapan dengan lingkungan sekitarnya akan berusaha untuk menyampaikan kebaikan. Hati nuraninya akan berontak ketika ada sesuatu yang tak sesuai hati nuraninya. Di situlah sebenarnya peran penting ayah dan ibu. Tak salah bila kitab suci selalu mengingatkan, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.
Ketika pendidikan keluarga telah berjalan baik, maka ada jenjang pendidikan formal yang harus mereka lalui. Orang banyak biasa menyebutnya sekolah. Di jenjang sekolah itulah pendidikan harus berjalan baik, dan sesuai dengan defenisi di mana peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki:
1. Kekuatan spiritual keagamaan,
2. Pengendalian diri,
3. Kepribadian,
4. Kecerdasan,
5. Akhlak mulia,
6. Keterampilan
Dari keenam hal di atas nampak jelas bahwa tujuan bersekolah seharusnya sesuai dengan definisi pendidikan yang sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003. Namun dalam kenyataannya seperti jauh panggang dari api. Sekolah belum menghasilkan peserta didik yang secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Kenapa hal itu sampai terjadi? Karena banyak dari pendidik tak menguasai konsep dasar dari pendidikan itu sendiri. Bahkan banyak guru yang belum mampu memberikan contoh atau teladan yang baik dari tujuan bersekolah. Janganlah heran bila kita lebih mudah melahirkan generasi yang berotak cerdas daripada generasi yang berwatak cerdas. Cerdas otak tanpa disertai cerdas watak akan melahirkan generasi keblinger seperti apa yang dikhawatirkan oleh pengamat pendidikan bapak Mochtar Buchori.
Sekarang saatnya kita mulai melakukan instrospeksi diri yang dimulai dari diri sendiri. Coba tanyakan kepada diri apakah pendidikan watak telah sampai ke otak dan hati nurani kita? Bila pendidikan watak lebih dominan, maka hati tak akan rusak oleh gemerlapnya kehidupan dunia yang fana ini. Dia tak akan pernah korupsi atau berbuat curang karena kekuatan spiritual keagamaan telah bersemi di dalam hati orang yang mengaku telah beragama dan menyembah Tuhannya.
Begitupun dengan pengendalian diri. Peserta didik yang sudah diberikan bekal bagaimana mengendalikan dirinya akan jauh lebih bijak dalam bertindak karena matang dalam berpikir. Tidak mudah emosi dan mampu mengendalikan dirinya dari hal-hal yang tidak baik. Di situlah kepribadian orang yang berwatak cerdas muncul. Dia akan menjadi pribadi yang tangguh, dan pantang menyerah. Pribadi yang unggul, dan mampu mandiri. Mereka akan lebih mandiri lagi bila dibekali dengan pendidikan kewirausahaan. Mind set mereka pun akan berubah dari mental pegawai menjadi mental pengusaha. Kreativitasnya akan muncul untuk menciptakan lapangan kerja buat dirinya, dan orang lain. Imajinasinya akan hidup karena diberi ruang untuk menumbuhkan kreativitasnya yang unik. Ingatlah! Setiap manusia memiliki lebih dari satu potensi. Kata-kata itulah yang masih saya ingat dalam mata kuliah Psikologi yang diampu oleh Prof. Dr. Conny. R. Semiawan. Seorang guru besar emiritus dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Pribadi yang unggul dan mandiri akan menjadi pribadi yang cerdas karena berakhlak mulia. Akhlak mulia inilah yang harus benar-benar nyata diajarkan kepada para peserta didik dengan pendidikan keteladanan.
Pendidikan keteladanan itu telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW bagi mereka yang menganut agama Islam. Sifat Sidiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah akan tercermin dari peserta didik manakala pendidik atau guru di Indonesia menyadari bahwa sifat kenabian harus dicontohkan, dan bukan hanya sekedar teori yang dihafalkan. Dia memerlukan tindakan nyata dan bukan sebatas kata-kata.
Ketika peserta didik secara aktif telah mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, maka keterampilan yang diperlukan dengan sendirinya akan mudah masuk ke otak siswa. Sebab keterampilan pada hakekatnya proses berlatih terus menerus. Siapa yang rajin belajar pasti akan pandai. Siapa yang rajin menulis, pastilah akan terampil menulis. Karena menulis adalah sebuah keterampilan yang bisa diajarkan dan bukan bakat.
Akhirnya, saya harus menutup pentingnya pendidikan keteladanan ini dengan sebuah kata bijak. Semut diseberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Seringkali kita menyalahkan orang lain, dan menganggap diri sendiri lebih hebat dari orang banyak. Bila anda memang orang hebat, berikanlah pendidikan keteladanan sebab pendidikan keteladanan saat ini masih hanya sebatas slogan. Satu kata antara perkataan dan perbuatan menjadi sesuatu yang mustahil terlihat kalau kita sebagai orang dewasa tak mampu memberikan pendidikan keteladanan. Urgensi pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas otak, tetapi juga watak. Tak salah kiranya bila pendidikan watak atau karakter sudah harus kita benahi di sekolah-sekolah kita.
Salam Blogger Persahabatan